![]() |
| Foto Got atau Parit Semakin Kering Akibat Kemarau |
Daftar Isi
- Kondisi Cuaca Dabuk Rejo Juli 2026, Kemarau yang Terasa Beda dari Biasanya
- Mengenang Januari, Ketika Warga Menyebutnya "Januari Hujan Sehari-hari"
- Realita Juli, Sumur, Kolam Ikan, dan Parit yang Mulai Mengering
- Tantangan Tersembunyi di Balik Sumur yang Menipis
- Cerita Saya Sendiri, Sanyo Kecolongan Hujan Dini Hari
- Cara Warga Dabuk Rejo Beradaptasi Saat Sumur Mulai Seret
- Sisi Lain Musim Kemarau, Momen Favorit Para Pemancing
- Cerita "Mbelet", Jalan Desa yang Bikin Jengkel Saat Musim Hujan
- Tips Menghadapi Musim Kemarau ala Warga Desa
- Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
- Referensi
Kondisi Cuaca Dabuk Rejo Juli 2026, Kemarau yang Terasa Beda dari Biasanya
Sudah beberapa minggu ini Dabuk Rejo tidak kunjung diguyur hujan. Ini murni pengamatan saya sebagai penulis yang tinggal di sini, bukan klaim ilmiah, tapi rasanya perlu saya sampaikan karena bedanya cukup terasa dibanding tahun lalu. Kalau saya bandingkan dengan tahun sebelumnya, intensitas hujan waktu itu jauh lebih stabil, bahkan bisa dibilang tahun lalu Dabuk Rejo nyaris tidak mengalami musim kemarau yang benar-benar kering seperti sekarang. Ketersediaan air di sumur waktu itu selalu aman meski disedot setiap hari untuk mandi, masak, mencuci baju, mencuci motor, sampai mengisi toren air di atas rumah dalam skala yang cukup banyak.
Tapi yang saya amati sekarang, hujan di Dabuk Rejo dalam beberapa minggu terakhir nyaris tidak ada. Kalaupun turun, intensitasnya bisa dibilang langka. Menariknya, pengamatan pribadi saya ini ternyata sejalan dengan data resmi. Berdasarkan buletin dari Stasiun Klimatologi BMKG Sumatra Selatan, wilayah OKI yang masuk Zona Musim (ZOM) 135 dan 136 memang diprediksi mengalami awal musim kemarau lebih cepat dibanding rata-rata normalnya, bahkan sebagian wilayah OKI bagian selatan sudah mulai memasuki fase kering sejak awal Mei 2026[1][2]. Sifat musim kemarau tahun ini di banyak zona musim Sumsel juga digolongkan bawah normal, alias lebih kering dibanding kebiasaan tahun-tahun sebelumnya[1].
BMKG pusat sendiri menyebut puncak musim kemarau nasional tahun 2026 terjadi pada rentang Juli hingga September, dan khusus untuk sebagian wilayah Sumatra Selatan, puncaknya diperkirakan jatuh pada Juli sampai Agustus[3][2]. Artinya, apa yang saya rasakan sekarang, sumur yang makin dalam, kolam yang menyusut, itu bukan kebetulan atau perasaan saya saja, tapi memang bertepatan dengan periode paling kering dalam siklus tahunan wilayah ini.
| Indikator | Kondisi Musim Kemarau 2026 di OKI |
|---|---|
| Awal musim kemarau | Lebih cepat dari normal, sebagian ZOM OKI mulai awal Mei 2026 |
| Sifat musim kemarau | Cenderung bawah normal (lebih kering dari kebiasaan) |
| Puncak kemarau | Juli hingga Agustus 2026 |
| Durasi | Sekitar 7 sampai 15 dasarian atau kurang lebih tiga sampai lima bulan |
Sumber: Stasiun Klimatologi BMKG Sumatra Selatan dan siaran pers BMKG, lihat bagian referensi. Data bersifat prakiraan wilayah zona musim, kondisi riil tiap desa bisa sedikit berbeda.
Kembali ke Daftar IsiMengenang Januari, Ketika Warga Menyebutnya "Januari Hujan Sehari-hari"
Kontras sekali kalau saya bandingkan dengan bulan Januari lalu. Beberapa warga Dabuk Rejo bahkan sempat membuat kepanjangan yang cukup unik untuk bulan itu, "Januari Hujan Sehari-hari". Dan memang benar, di bulan itu hampir setiap hari hujan turun, bahkan sekali hujan kadang bisa awet berjam-jam. Saking seringnya, halaman rumah, maksud saya bagian tanah di depan rumah yang bukan bagian dari bangunan, sering kali terendam air.
Ada satu istilah yang cukup sering saya dengar dari masyarakat Dabuk Rejo untuk menggambarkan kondisi itu, yaitu "koyo segoro". Ini kiasan dalam bahasa Jawa yang biasa dipakai warga ketika hujan turun terus-menerus, sampai pemilik rumah yang berdiri memandang keluar melihat halaman rumahnya terendam air secara merata, ke kiri maupun ke kanan yang terlihat cuma rerumputan yang menyembul, tanah sudah tidak kelihatan sama sekali. Jadi kelihatannya seperti lautan kecil di depan rumah, itulah kenapa disebut koyo segoro, yang artinya kurang lebih "seperti lautan".
Saya cerita bagian ini bukan tanpa alasan. Justru dari sinilah kontrasnya terasa. Bulan yang sama sekali tidak kekurangan air, bahkan sampai halaman rumah tergenang, sekarang di bulan Juli saat artikel ini saya tulis, kondisinya berbalik seratus delapan puluh derajat.
Kembali ke Daftar IsiRealita Juli, Sumur, Kolam Ikan, dan Parit yang Mulai Mengering
![]() |
| Foto Kolam Ikan yang Air nya makin sedikit |
Mungkin banyak yang mengira, "ah, apa masalahnya, namanya juga musim, nanti juga balik lagi." Menurut saya pribadi, tidak sesederhana itu, apalagi sebagai orang yang mengalaminya langsung. Masalah yang muncul buat saya bukan cuma soal air yang berkurang, tapi juga soal cara mengambilnya yang jadi semakin sulit dari hari ke hari.
Mungkin ada juga yang bertanya, kenapa harus sulit, selama air masih ada di sumur, tinggal pakai mesin pompa atau sanyo saja, tidak perlu nimbo. Nimbo sendiri adalah istilah dalam bahasa Jawa untuk teknik mengambil air sumur secara manual, menggunakan kerekan, tali, dan ember yang diikat. Kalau ember sudah dicelupkan dan penuh, tinggal ditarik naik. Masalahnya, kalau full tenaga manual itu lumayan berat, makanya ada kerekan atau katrol sebagai pembagi tenaga supaya tidak semuanya terbuang percuma di satu tarikan.
Itu semua benar, dan mungkin memang berlaku kalau yang dipakai mesin pompa air listrik yang bagus dan mahal. Tapi untuk sanyo yang saya punya sendiri, kondisinya tidak sesederhana itu.
Kembali ke Daftar IsiTantangan Tersembunyi di Balik Sumur yang Menipis
![]() |
| Foto Sumur yang mulai habis saat musim kemarau |
Ini bukan soal daya tegangan listrik yang kurang, melainkan kekuatan sanyo itu sendiri yang terlalu berat kalau harus menyedot air dari kedalaman yang jauh sambil memompanya naik ke atas lewat pipa atau paralon. Karena itu, sanyo harus diturunkan ke dalam sumur dengan hati-hati, diikat erat supaya tidak jatuh, dengan begitu daya sedotnya jadi lebih kuat.
Apakah masalah selesai sampai di situ? Tentu tidak. Selama musim kemarau, hujan yang tidak ada membuat sumber air makin sedikit, sementara sumur tetap diambil airnya setiap hari, sehingga kedalaman permukaan air terus bertambah dari waktu ke waktu. Di titik inilah pemilik sumur, termasuk saya sendiri, dituntut untuk terus memperdalam posisi sanyo, digantung lebih dalam lagi, dan itu berulang terus-menerus selama kemarau berlangsung.
Tapi meskipun begitu, teknik menggantung sanyo semakin dalam ini sebenarnya cukup riskan. Sebisa mungkin harus sangat hati-hati saat menggantungnya. Namun tidak bisa dipungkiri, ada risiko lain yang lumayan sering bikin warga kecolongan, yaitu ketika sanyo masih tergantung dalam posisi rendah di sumur, tiba-tiba hujan datang dan volume air naik drastis sampai merendam sanyo itu sendiri. Hasilnya, alat rusak.
Kembali ke Daftar IsiCerita Saya Sendiri, Sanyo Kecolongan Hujan Dini Hari
Saya sendiri pernah mengalami kejadian seperti itu. Waktu itu saya sedang tidur pulas, tiba-tiba sekitar jam tiga dini hari hujan turun cukup lama dan membuat volume air di sumur naik. Secara psikologis, ketika posisi sedang tidur dan hujan turun, biasanya justru bikin tidur jadi lebih nyenyak, bukan malah terbangun waspada.
Di pagi harinya, sekitar jam setengah enam, saya baru tersadar, tapi semuanya sudah terlambat. Sanyo yang tergantung di sumur sudah terendam air dan rusak. Alhasil saya harus beli baru lagi. Pengalaman ini yang membuat saya jadi lebih waspada setiap kali musim kemarau mulai berlangsung dan posisi sanyo harus diturunkan lebih dalam dari biasanya.
Kembali ke Daftar IsiCara Warga Dabuk Rejo Beradaptasi Saat Sumur Mulai Seret
Bergeser ke lingkungan sekitar, saya amati kalau memasuki musim kemarau yang agak panjang, umumnya masyarakat Dabuk Rejo sudah punya cara antisipasi sendiri. Seperti yang pernah saya bahas lebih lengkap di artikel Dabuk Rejo: Desa Damai di Lempuing OKI yang Nyaman dan Lengkap, mayoritas warga di sini memang punya sumur sendiri, baik tipe galian maupun sumur bor. Karena hampir setiap rumah punya sumbernya masing-masing, kondisi kekeringan tidak selalu merata, ada rumah yang sumurnya cepat menipis, ada juga yang sumur bornya relatif masih melimpah.
Kalau kondisi seperti itu terjadi, biasanya warga yang sumurnya sudah mulai seret akan nunut banyu. Istilah dalam bahasa Jawa ini berarti meminta tolong kepada tetangga yang sumber airnya masih melimpah atau punya sumur bor, dengan cara ikut mengambil air, entah menggunakan sanyo yang dialirkan ke rumah sendiri, atau secara manual membawa banyak jeriken bolak-balik. Cara ini sudah jadi semacam kebiasaan tidak tertulis di antara tetangga selama musim kemarau, dan menurut saya justru menunjukkan sisi kekeluargaan yang masih kuat di desa ini.
Kembali ke Daftar IsiSisi Lain Musim Kemarau, Momen Favorit Para Pemancing
Ada satu hal menarik yang saya amati sendiri di kondisi kemarau seperti ini, khususnya untuk para bapak-bapak di Dabuk Rejo yang hobi memancing. Justru momen menjelang dan selama musim kemarau ini yang paling mereka tunggu. Saat saya tanya langsung, kebanyakan jawabannya senada, karena di kali atau sungai arusnya jadi tidak deras, bahkan hampir diam, sehingga memancing jadi jauh lebih mudah dibanding musim hujan ketika arus air deras dan sulit diprediksi.
Jadi meskipun musim kemarau membawa masalah soal air bersih, di sisi lain ternyata ada juga warga yang justru menikmati periode ini dengan cara mereka sendiri.
Kembali ke Daftar IsiCerita "Mbelet", Jalan Desa yang Bikin Jengkel Saat Musim Hujan
Meskipun topik utama artikel ini soal kemarau, saya rasa perlu juga menyinggung sedikit soal kondisi jalan di gang-gang Dabuk Rejo, terutama yang masih berupa tanah, belum aspal atau beton cor. Kalau musim hujan datang, biasanya jalanan seperti ini akan banyak lumpur dan jadi licin. Ada satu kondisi yang menurut saya cukup bikin jengkel kalau sedang jalan kaki melewati gang tanah seperti itu, warga sini menyebutnya "mbelet". Istilah dalam bahasa Jawa ini menggambarkan kondisi saat berjalan di tanah becek berlumpur dan bertanah liat, memakai alas kaki, lama-lama terasa berat. Bukan berarti kaki tertanam ke dalam lumpur, tapi ada segumpalan tanah liat yang menempel di alas kaki atau sandal sehingga membebani setiap langkah. Biasanya pemilik alas kaki harus mencongkelnya pakai kayu atau benda lain supaya tanah liat itu jatuh dan tidak terlalu berat saat berjalan. Sayangnya, begitu berjalan lebih jauh lagi, kondisi yang sama akan terulang lagi.
Saya sengaja cerita bagian ini supaya pembaca bisa melihat gambaran yang lebih lengkap, bagaimana kondisi tanah di Dabuk Rejo berubah drastis tergantung musimnya, dari yang becek dan mbelet saat hujan, sampai kering, retak, dan sumur yang makin dalam saat kemarau seperti sekarang.
Kembali ke Daftar IsiTips Menghadapi Musim Kemarau ala Warga Desa
Berdasarkan pengalaman pribadi saya dan juga beberapa panduan resmi soal kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba warga yang mengandalkan sumur sebagai sumber air utama selama musim kemarau berlangsung.
- Periksa posisi sanyo secara berkala, jangan menunggu air benar-benar tidak keluar baru diturunkan lebih dalam.
- Kalau memungkinkan, pasang penanda atau ukur kedalaman air sumur secara rutin supaya perubahan volume air bisa dipantau lebih awal.
- Hindari menggantung sanyo terlalu longgar, ikat dengan tali yang kuat supaya tidak mudah terendam kalau tiba-tiba hujan deras turun dan volume air naik cepat.
- Biasakan menutup keran saat tidak dipakai, misalnya saat menyikat gigi atau mencuci piring, kebiasaan kecil ini bisa menghemat cukup banyak air setiap harinya[4].
- Kalau kondisi sumur di rumah sudah sangat menipis, tidak ada salahnya nunut banyu ke tetangga yang sumbernya masih memadai, sambil tetap menjaga hubungan baik dan bergantian membantu saat kondisi berbalik.
- Simpan cadangan air di toren atau wadah tertutup saat kondisi masih normal, supaya ada stok cadangan ketika sumur mulai seret di puncak kemarau.
Menurut catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, bencana kekeringan memang mendominasi dampak musim kemarau di berbagai daerah pada Juli 2026 ini, dan masyarakat diimbau untuk mulai menghemat air sejak dini serta mewaspadai potensi kebakaran lahan di sekitar tempat tinggal[5]. Meski Dabuk Rejo sejauh ini belum sampai pada kondisi krisis air yang parah, kewaspadaan sejak awal menurut saya tetap penting, apalagi kalau melihat tren sumur yang semakin dalam setiap tahunnya.
Kembali ke Daftar IsiPertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
Referensi
- Stasiun Klimatologi BMKG Sumatra Selatan, "Prediksi Musim Kemarau Tahun 2026 (Pemutakhiran Mei 2026)", staklim-sumsel.bmkg.go.id.
- Kompas.com, "BMKG: Musim Kemarau di Sumsel Diprediksi Berlangsung Mulai Mei 2026", 30 Maret 2026, kompas.com.
- BMKG, Siaran Pers "Puncak Musim Kemarau Agustus 2026, Perkuat Kesiapan Hadapi Dampak El Nino", 10 Juni 2026, bmkg.go.id.
- RBTV Disway, "7 Tips Hemat Air Bersih di Rumah saat Kemarau Panjang, Anti Krisis", rbtv.disway.id.
- Kompas.com, "BNPB Ungkap Kekeringan Landa Jateng hingga Maluku", 3 Juli 2026, nasional.kompas.com.
Sebagian besar isi artikel ini merupakan pengamatan dan pengalaman pribadi penulis sebagai warga Dabuk Rejo selama musim kemarau Juli 2026, digabungkan dengan data resmi BMKG dan BNPB untuk konteks yang dapat diverifikasi pembaca.



Jos jis
BalasHapusah masa
Hapus