Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Berkonsultasi di Apotek
Ada kebiasaan yang cukup sering terlihat ketika seseorang datang ke apotek. Begitu sampai di depan meja pelayanan, mereka langsung menyebut nama obat yang ingin dibeli. Tidak sedikit yang bahkan sudah menyiapkan foto kemasan obat dari ponsel atau mengingat warna dan bentuk tablet yang pernah diminum beberapa bulan lalu.
Percakapannya sering singkat.
"Yang kemarin itu masih ada, Mbak?"
Atau:
"Biasanya saya minum yang warna biru."
Lalu proses berlanjut tanpa banyak pertanyaan.
Bagi sebagian orang, apotek memang dianggap sekadar tempat membeli obat. Datang, sebut keluhan atau nama obat, lalu pulang. Padahal di balik meja apotek ada tenaga kefarmasian yang sebenarnya bisa membantu menjelaskan banyak hal yang sering luput dari perhatian masyarakat.
Menariknya, kesalahan saat berkonsultasi di apotek bukan selalu karena kurangnya pengetahuan. Kadang justru muncul dari kebiasaan yang sudah dianggap normal sejak lama. Karena sering dilakukan banyak orang, akhirnya terasa wajar meskipun sebenarnya bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.
Datang Hanya Mengingat Warna atau Bentuk Obat
Ini mungkin salah satu kejadian paling umum.
Seseorang merasa cocok dengan obat yang pernah diminum sebelumnya. Ketika ingin membeli lagi, yang diingat bukan nama obatnya, melainkan warna kemasan, bentuk tablet, atau ukuran kapsulnya.
Masalahnya, banyak obat memiliki tampilan yang mirip.
Dari sudut pandang pembeli, informasi seperti "obat bulat putih" atau "kotaknya hijau" mungkin terasa cukup jelas. Namun bagi petugas apotek, informasi tersebut sering kali terlalu umum untuk memastikan obat yang dimaksud.
Membawa foto kemasan atau menyimpan catatan nama obat biasanya jauh lebih membantu dibanding mengandalkan ingatan semata.
Tidak Menyebutkan Obat yang Sedang Dikonsumsi
Banyak orang menganggap setiap obat bekerja sendiri-sendiri.
Padahal dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja sedang mengonsumsi beberapa produk sekaligus. Obat dari dokter, obat yang dibeli sendiri di apotek, vitamin, suplemen, bahkan jamu.
Ketika berkonsultasi, informasi ini kadang tidak disampaikan karena dianggap tidak penting.
Padahal apoteker sering perlu mengetahui gambaran yang lebih lengkap sebelum memberikan saran yang sesuai. Semakin lengkap informasi yang diberikan, semakin mudah pula menghindari penggunaan obat yang tidak tepat atau tumpang tindih.
Lupa atau Tidak Menyebutkan Riwayat Alergi
Ada juga yang pernah mengalami alergi obat, tetapi karena kejadiannya sudah lama, informasi tersebut tidak lagi dianggap penting.
Padahal satu detail kecil seperti ini bisa sangat berpengaruh.
Kadang masyarakat baru teringat setelah petugas apotek bertanya lebih lanjut.
"Eh iya, dulu pernah gatal-gatal setelah minum obat tertentu."
Situasi seperti ini cukup sering terjadi. Bahkan pembahasan mengenai pentingnya menyampaikan riwayat alergi pernah saya bahas lebih khusus dalam artikel "Pentingnya Menyebutkan Alergi Obat Saat Berkonsultasi di Apotek" karena masih banyak orang yang menganggap informasi tersebut tidak terlalu diperlukan.
Malu Bertanya karena Takut Dianggap Tidak Paham
Ini lebih sering terjadi daripada yang dibayangkan.
Ada pembeli yang sebenarnya masih bingung cara penggunaan obatnya. Ada yang belum memahami perbedaan obat sebelum makan dan sesudah makan. Ada pula yang masih ragu apakah obat tertentu boleh diminum bersamaan dengan produk lain.
Namun pertanyaan itu akhirnya disimpan sendiri.
Alasannya bermacam-macam.
Malu.
Takut terlihat tidak mengerti.
Atau merasa pertanyaannya terlalu sepele.
Padahal justru bertanya adalah bagian penting dari proses konsultasi. Tidak ada yang aneh dengan meminta penjelasan ulang jika memang belum paham. Apoteker jauh lebih senang menjelaskan sejak awal dibanding menghadapi kesalahan penggunaan obat setelah pasien pulang.
Menganggap Semua Keluhan Bisa Diatasi dengan Obat yang Sama
Ada pola pikir yang cukup umum di masyarakat.
Karena suatu obat pernah berhasil membantu saat sakit sebelumnya, maka obat yang sama dianggap cocok untuk semua kondisi yang mirip.
Misalnya pernah mengalami batuk lalu membaik setelah minum obat tertentu. Ketika batuk muncul lagi beberapa bulan kemudian, langsung mencari obat yang sama tanpa berkonsultasi lebih dulu.
Padahal keluhan yang tampak serupa belum tentu memiliki penyebab yang sama.
Inilah alasan mengapa petugas apotek biasanya akan menanyakan beberapa hal sebelum memberikan rekomendasi. Pertanyaan tersebut bukan untuk mempersulit, melainkan untuk memahami situasi secara lebih utuh.
Terburu-buru dan Tidak Mendengarkan Penjelasan
Kesibukan sehari-hari juga berpengaruh.
Ada pelanggan yang datang saat sedang mengejar waktu. Setelah menerima obat, mereka langsung memasukkannya ke tas dan bergegas pergi.
Penjelasan penggunaan obat hanya terdengar setengah-setengah.
Ketika sampai di rumah, barulah muncul pertanyaan yang sebenarnya bisa dijelaskan saat itu juga.
Fenomena ini cukup sering terlihat, terutama di kota-kota besar yang ritme kehidupannya semakin cepat. Beberapa menit tambahan untuk mendengarkan informasi penggunaan obat sebenarnya bisa memberikan manfaat yang jauh lebih besar dibanding harus kembali lagi karena kebingungan.
Menganggap Apotek Hanya Tempat Membeli Obat
Mungkin ini kesalahan yang paling mendasar.
Masih banyak masyarakat yang melihat apotek hanya sebagai toko obat.
Datang membeli, lalu selesai.
Padahal fungsi apotek tidak sesederhana itu. Di sana ada layanan informasi obat, konsultasi penggunaan obat, edukasi kesehatan ringan, hingga penjelasan terkait keamanan penggunaan produk tertentu.
Bahkan beberapa pertanyaan sederhana yang sering muncul saat membeli obat sebenarnya layak ditanyakan langsung kepada apoteker. Topik tersebut pernah saya bahas lebih lanjut dalam artikel "Hal yang Harus Ditanyakan ke Apoteker Saat Membeli Obat".
Sering kali jawaban yang diperoleh dalam percakapan singkat di apotek justru lebih bermanfaat daripada mencari informasi secara acak di media sosial.
Ketika Informasi Kecil Ternyata Sangat Berarti
Dalam berbagai edukasi yang disampaikan oleh BPOM maupun Kementerian Kesehatan, masyarakat juga terus diingatkan untuk menggunakan obat secara bijak dan memperoleh informasi dari sumber yang tepat. Pesan ini terdengar sederhana, tetapi praktiknya masih menjadi tantangan sehari-hari.
Kadang masalah bukan terletak pada obatnya.
Bukan juga pada apoteknya.
Melainkan pada informasi yang tidak tersampaikan saat konsultasi berlangsung.
Satu kalimat yang lupa disebutkan, satu pertanyaan yang tidak jadi diajukan, atau satu riwayat kesehatan yang dianggap sepele bisa membuat proses penggunaan obat menjadi kurang optimal.
Penutup
Jika diperhatikan, sebagian besar kesalahan saat berkonsultasi di apotek sebenarnya bukan sesuatu yang rumit.
Bukan karena seseorang tidak peduli terhadap kesehatannya.
Bukan pula karena kurang cerdas.
Sering kali itu hanya kebiasaan yang sudah berlangsung lama dan dianggap biasa oleh lingkungan sekitar.
Kita terbiasa membeli obat dengan cepat, mengandalkan ingatan, atau merasa sungkan untuk bertanya. Padahal kesehatan sering kali bergantung pada hal-hal kecil yang tampaknya tidak terlalu penting saat itu.
Mungkin lain kali ketika datang ke apotek, ada baiknya meluangkan sedikit waktu lebih lama. Menyampaikan informasi yang lengkap. Mendengarkan penjelasan sampai selesai. Dan tidak ragu bertanya ketika ada yang belum jelas.
Karena dalam banyak situasi, percakapan singkat di apotek bukan sekadar urusan membeli obat. Di situlah sering muncul informasi yang membantu kita menggunakan obat dengan lebih aman, lebih tepat, dan lebih tenang.

Komentar
Posting Komentar