Kesalahan yang Sering Dilakukan Saat Membeli Obat di Apotek

 


Kalau diperhatikan, banyak orang sebenarnya datang ke apotek bukan dalam kondisi benar-benar siap membeli obat. Mereka datang sambil mengingat-ingat. Ada yang cuma bilang, “yang kemarin itu loh, yang bungkusnya hijau.” Ada juga yang datang sambil menelepon anggota keluarga di rumah, menanyakan nama obat yang bahkan tidak ada satu orang pun yakin cara menyebutkannya.

Di beberapa daerah sekitar Palembang dan wilayah perdesaan Sumatera Selatan, kebiasaan seperti ini masih sangat biasa. Kadang bukan karena tidak peduli kesehatan, tapi memang dari dulu pola membeli obat dilakukan secara praktis. Yang penting cepat, dekat rumah, dan dianggap cocok.

Ada juga kebiasaan membeli obat berdasarkan cerita tetangga.

“Anak aku kemarin sembuh minum ini.”

Kalimat seperti itu sering lebih dipercaya daripada membaca aturan pakai di kemasan. Apalagi kalau obatnya pernah dipakai sebelumnya dan terasa ampuh. Akhirnya banyak orang merasa tidak perlu lagi bertanya terlalu banyak saat datang ke apotek.

Padahal, kebiasaan kecil seperti ini kadang justru jadi awal masalah yang tidak disadari.

Bukan masalah besar yang langsung terlihat hari itu juga. Tapi perlahan membuat penggunaan obat jadi kurang tepat, terlalu sembarangan, atau bahkan berisiko untuk kesehatan sendiri.

Datang ke Apotek Tanpa Tahu Obat Apa yang Sedang Diminum

Ini sering terjadi pada orang yang sedang rutin minum beberapa obat sekaligus.

Saat ditanya nama obat sebelumnya, jawabannya:
“Lupa.”
“Atau tunggu saya cari fotonya dulu.”

Kadang yang diingat justru warna strip atau bentuk tablet. Ada yang bilang obat bulat putih kecil, ada yang bilang kapsul merah kuning. Masalahnya, bentuk dan warna obat bisa mirip satu sama lain.

Di apotek, informasi kecil sebenarnya penting. Nama obat, riwayat penggunaan, alergi tertentu, atau obat lain yang sedang diminum bisa membantu apoteker menghindari kesalahan penggunaan.

Yang sering terjadi justru sebaliknya. Orang datang dalam keadaan buru-buru, malu bertanya, lalu berharap petugas langsung mengerti hanya dari ciri-ciri umum.

Padahal tubuh manusia bukan mesin fotokopi. Obat yang cocok untuk satu orang belum tentu cocok untuk orang lain, bahkan dalam satu rumah sekalipun.

Menganggap Semua Obat Aman Karena Dijual di Apotek

Ada anggapan yang cukup umum:
“Kalau dijual bebas berarti aman.”

Padahal tidak sesederhana itu.

Obat bebas memang bisa dibeli tanpa resep dokter, tapi tetap ada aturan penggunaan, efek samping, dan kondisi tertentu yang perlu diperhatikan. Apalagi kalau dikonsumsi terus-menerus tanpa jeda.

Yang cukup sering terlihat misalnya obat sakit kepala diminum hampir tiap hari karena sudah terbiasa. Atau obat flu dibeli berulang tanpa benar-benar memperhatikan kandungannya.

Kadang masyarakat lebih fokus pada “yang penting reda dulu.”

Padahal beberapa obat memiliki kombinasi bahan aktif yang kalau diminum bersamaan dengan obat lain bisa menimbulkan masalah tertentu. Ini yang sering tidak disadari.

Pembahasan soal kebiasaan membeli obat tanpa benar-benar memahami isi dan kandungannya sebenarnya pernah saya bahas juga di artikel tentang cara membedakan obat asli dan palsu di apotek. Banyak orang ternyata masih lebih memperhatikan merek dibanding memahami isi obat yang diminum setiap hari.

Antibiotik Dihentikan Saat Badan Sudah Enakan

Ini mungkin salah satu kebiasaan yang paling sering ditemui.

Baru minum dua atau tiga kali, badan terasa membaik, lalu obat berhenti diminum. Sisanya disimpan di lemari. Kadang malah diberikan ke anggota keluarga lain beberapa bulan kemudian karena dianggap “penyakitnya mirip.”

Padahal penggunaan antibiotik tidak sesederhana obat biasa.

Kementerian Kesehatan dan BPOM sendiri cukup sering mengingatkan soal penggunaan antibiotik yang tidak tepat karena bisa memicu resistensi bakteri. Dalam bahasa sederhana, bakteri jadi lebih sulit dilawan ketika infeksi benar-benar terjadi nanti.

Masalahnya, di kehidupan sehari-hari kebiasaan menghentikan antibiotik lebih cepat sering dianggap hal normal. Bahkan ada yang merasa sayang kalau obat dihabiskan.

“Masih ada sisa.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup menggambarkan bagaimana obat sering diperlakukan seperti barang biasa, bukan bagian dari terapi kesehatan.

Memilih Apotek Hanya Karena Paling Dekat

Di kota kecil dan daerah perdesaan, faktor jarak memang sangat berpengaruh. Orang cenderung memilih tempat yang paling mudah dijangkau. Kadang cukup yang penting bisa ditempuh motor lima menit dari rumah.

Tidak ada yang salah dengan itu.

Tapi ada satu hal yang kadang luput diperhatikan: apakah tempat tersebut benar-benar memberikan informasi obat dengan baik.

Sebagian masyarakat masih merasa apotek hanya tempat transaksi. Datang, beli, pulang.

Padahal fungsi apotek sebenarnya lebih luas dari itu. Ada konsultasi ringan, penjelasan penggunaan obat, edukasi penyimpanan, sampai membantu mengingatkan risiko penggunaan tertentu.

Topik tentang pentingnya legalitas dan fungsi apotek sendiri pernah saya bahas juga di artikel “Mengapa Legalitas Apotek Penting”. Banyak orang ternyata baru sadar perbedaannya setelah mengalami sendiri masalah saat membeli obat sembarangan.

Malu Bertanya Karena Takut Dibilang Tidak Tahu

Ini cukup manusiawi sebenarnya.

Masih banyak orang yang merasa sungkan bertanya di apotek. Takut dianggap terlalu banyak tanya. Takut terlihat tidak paham. Akhirnya memilih mengangguk saja meskipun sebenarnya belum benar-benar mengerti cara minumnya.

Apalagi generasi orang tua.

Kadang mereka pulang tanpa tahu apakah obat diminum sebelum makan atau sesudah makan. Ada juga yang lupa aturan pakainya beberapa jam setelah sampai rumah.

Hal-hal kecil seperti ini sering dianggap sepele, padahal cukup penting.

Menariknya, banyak apoteker justru lebih senang kalau pembeli bertanya dibanding diam tapi salah menggunakan obat di rumah.

Membeli Obat Karena “Katanya Cocok”

Kalau tinggal di lingkungan yang masyarakatnya akrab satu sama lain, rekomendasi obat sering menyebar cepat.

Tetangga sembuh.
Saudara cocok.
Teman kantor merasa ampuh.

Akhirnya nama obat ikut berpindah dari satu orang ke orang lain seperti rekomendasi warung makan.

Kadang yang membuat orang yakin bukan kandungan obatnya, tapi cerita pengalaman orang lain.

Ini yang cukup sering terjadi pada obat flu, obat pegal, obat lambung, bahkan antibiotik tertentu.

Masalahnya, keluhan yang terlihat mirip belum tentu penyebabnya sama. Batuk saja bisa macam-macam. Sakit kepala juga begitu.

Di sinilah sebenarnya fungsi konsultasi di apotek menjadi penting, meskipun hanya beberapa menit.

Terlalu Percaya Pada Obat “Langganan”

Ada orang yang merasa punya satu obat andalan untuk semua keadaan.

Masuk angin sedikit minum itu.
Tidur kurang minum itu.
Badan pegal minum itu lagi.

Karena sudah sering dipakai dan terasa cocok, akhirnya muncul rasa aman yang berlebihan.

Padahal kondisi tubuh berubah seiring waktu. Usia bertambah, riwayat kesehatan berubah, pola makan berubah, bahkan obat lain yang dikonsumsi juga bisa memengaruhi.

Kadang yang membuat orang terlambat sadar bukan karena obatnya langsung berbahaya, tapi karena merasa semuanya baik-baik saja selama bertahun-tahun.

Kebiasaan seperti ini sangat umum dan sering terjadi tanpa niat buruk sama sekali. Murni karena sudah terbiasa.

Pada Akhirnya, Cara Kita Memperlakukan Obat Juga Menunjukkan Cara Kita Memperlakukan Kesehatan

Mungkin itu yang paling terasa kalau sering memperhatikan kebiasaan masyarakat saat membeli obat.

Banyak orang sebenarnya tidak berniat sembarangan. Mereka hanya mengikuti pola yang sudah dilakukan bertahun-tahun. Mengandalkan ingatan, pengalaman orang sekitar, atau kebiasaan lama yang dianggap normal.

Dan memang begitulah kehidupan sehari-hari berjalan.

Di warung, di rumah, di obrolan tetangga, sampai saat berdiri di depan etalase apotek sambil mencoba mengingat nama obat yang pernah dibeli beberapa bulan lalu.

Kadang kita baru sadar pentingnya memahami obat setelah mengalami sendiri efek penggunaan yang kurang tepat. Setelah salah minum. Setelah keluhan tidak kunjung membaik. Atau setelah bingung membaca aturan pakai yang dari awal sebenarnya bisa ditanyakan.

Mungkin apotek bukan cuma tempat membeli obat.

Kadang ia juga jadi tempat kecil yang mengingatkan bahwa kesehatan tidak selalu soal pengobatan mahal atau istilah medis rumit. Ada bagian sederhana yang sering terlupakan: mau sedikit lebih peduli, sedikit lebih bertanya, dan tidak terlalu terburu-buru memperlakukan obat seperti barang biasa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tips Memilih Apotek Terpercaya di Palembang

Tanda Apotek Mengutamakan Keamanan Konsumen

Tanda-tanda Apotek Terpercaya di Palembang: Checklist Biar Tidak Salah Pilih